UA-85687238-1 Di Antara Kunang-kunang: October 2016

Semoga Ada Hari Baik Selanjutnya

Lamunan-lamunan yang bias
Menutup mata sama saja membunuh waktu
Lalu detik-detik itu?
Membiru sudah bersama rindu

Daun-daun teh mengerti
Saat sebelumnya ada tawa di sekelilingnya
Kaki-kaki di antara bebatuan
Yang kegirangan menatap langit sore

Bunga putih kecil terjatuh
Angin meniup rintih-rintih suara sayu
Begitu besar kasih Tuhan
Hamparan hijau di bawah langit kelabu

Kemudian hempas serupa air
Lalu riuh berbisik ke telinga
Ini belum cukup, Sayangku
Semoga ada hari baik selanjutnya



Oleh: Randi Ari Nugraha S

Tidak Lagi

Ranting di atas kepalamu yang merunduk ketika bunga-bunga putih keunguan bermekaran di tubuhnya; kau menatapnya sambil tersenyum. Kemudian terjatuh daun kecil kehijauan, tepat di hidungmu, menyadarkanmu bahwa kau dan rindu adalah satu, yang semu pada pucuk waktu.
Riang kunang-kunang tidak datang malam ini, sehampar rerumputan menggigil, tapi kau tersenyum, kemudian bintang-bintang pada langit di sudut matamu tersenyum bersamamu.
Tidak lagi. Tidak. Tidak lagi satupun bening air matamu akan menetes dan mengalir ke pipimu sampai pada rona bibirmu. Tidak lagi sunyi akan menggeliat menghancurkan inti tubuhmu, menyatakan lemahmu. Tidak lagi cahaya kecil berkelip kunang-kunang akan kau tunggu dan kau akan berlalu, tanpa berkata-kata pada angin yang menjatuhkan daun kecil kehijauan, tapi angin tersenyum dan mekar bunga-bunga putih keunguan tersenyum bersamanya, bersamamu.



Oleh: Randi Ari Nugraha S