UA-85687238-1 Di Antara Kunang-kunang: August 2016

Di Kantin Sekolah Menengah Kejuruan

Ia menunggumu, menunggumu sambil rebah seluruh tubuhnya pada sebuah kursi oranye panjang di bawah pohon tua yang daun-daunnya menguning kecoklatan kemudian gugur karna angin pada sore yang meniupkan lembut namamu tepat di telinga kirinya sembari mencerna suara sendu burung gereja di telinga kanannya lalu menutup matanya yang mungkin kelelahan memandangi langit rabu yang terlalu sayu. Ia menunggumu.







Oleh: Randi Ari Nugraha S

Kalau-kalau Harga Rokok Naik

Kalau-kalau harga rokok naik, biar saja kuhirup oksigen murni, tapi bukan disini, bukan ditempat ini, lima zat pencemar udara paling jahat bertebaran disini. Aku akan pergi, pergi kesana, bukit paling hijau tanpa daun-daun yang menguning, oksigen murni bertebaran disana sebelum petang. Akan kuhirup dalam-dalam oksigen murni itu, biar paru-paruku mengembang lalu mengempis lalu mengembang lagi. Akan benar-benar kunikmati.

Petani-petani tembakau pun akan datang, mereka akan tersenyum melihatku. Resah di dadanya akan dilupakannya barang sejenak. Kami sama-sama cinta tembakau. Tapi biar kami lupakan sebentar tentang tembakau kali ini. Biar kami singgah.

Kami akan duduk, menghirup dalam-dalam oksigen murni disana, menikmati suasana, bunga-bunga putih kecil di kaki, bercerita tentang riwayat keringat-keringat yang pernah terjatuh.

Kemudian salah satu dari petani tembakau akan bernyanyi, suaranya merintih, kecil, lembut "hiduplah tanahku, hiduplah negriku, Bangsaku, Rakyatku, semuanya" Kami pun ikut bernyanyi, kami bernyanyi, kami semua bernyanyi, burung-burung kecil pun sekuat tenaga berusaha menyanyikan nyanyian ini bersama kami.

Kemudian kami akan tertawa, sangat keras, sungguh keras, sampai puas, sampai menetes air mata.

Kabut akan turun dan kami akan pergi, pergi ketempat kami masing-masing. Ada empat jalan setapak yang bisa kami lalui, para petani tembakau memilih menuju ke selatan bersama-sama, aku ke utara, namun tak ada satupun dari kami yang pergi ke barat atau pun ke timur.

Dari kejauhan, tubuh-tubuh ringkih mereka, lengkung keikhlasan pada wajah mereka, ada lengkung keikhlasan pada wajah mereka. Tawa mereka, mereka tertawa, tapi tetes air mata mereka, mereka menangis.

Semakin jauh, jalan setapak yang tertutup kabut, mereka menghilang, tak lagi terlihat, ada aroma tembakau.














Oleh: Randi Ari Nugraha S

Bambu Larangan

Kalian bertanya dan aku menjawab dan aku mati
Dari cahaya sampai gelap sampai aku mati
Lalu apa?
Ini masih terlalu gelap
Masih terlalu sepi

Kenapa aku?
Lidah memang buas
Aku terima itu
Tapi bukan aku
Sungguh, bukan aku

Bambu hitam, bambu tali, bambu ampel
Mereka saja tak asal menerka
Siapa kalian?
Siapa aku?

Irasional
Buncit dan darah-darah mereka
Keresahan-keresahan itu
Aku pun sama
Kenapa aku?

Kalian bertanya dan aku menjawab dan aku mati
Dari cahaya sampai gelap sampai aku mati
Lalu apa?
Sudah pagi
Aku
Mati



Oleh: Randi Ari Nugraha S



Di Cengkareng

Hitam dan jauh.
Ini malam, tak pernah seindah mimpi.
Kelip-kelip di atas sana tak ada-apanya.
Di hadapanku, jamur-jamur beratap tumbuh subur.
Lebih kelip, lebih berkelip.
Membentuk rentetan benderang menantang bintang.
Sebuah polusi cahaya luar biasa.

Ada yang bilang ini tempatku.
Kupikir, ini tempatmu.
Adakah hal yang lebih rancu ketimbang itu?
Bahkan tak lagi ku kenali tempat ini.
Di bawanya jauh-jauh kenang masa kecilku.
Biar saja aku berserah pada dewasa.
Satu-satunya hal yang masih layak ku ada-ada.

Disini.
Tak lagi kunang-kunang menari.
Tak lagi cahaya kecil di rerumputan menyapaku.
Tak lagi mampu kukenang.
Tak lagi aku, di tempatku.





Oleh: Randi Ari Nugraha S


Aku Hidup

Aku tidak melihat bahagia pada tetes-tetes air.
Aku tidak mendengar tawa pada daun-daun.
Aku tidak melihatmu pada rona bunga di ujung sana.
Aku rebah.
Ada yang rebah.

Burung-burung tidak kembali untukku.
Langit mengabaikanku.
Padi-padi menari tanpaku.
Angin berhembus di sela-sela gigilku.
Aku hening.
Ada yang hening.

Rindu masih mengalir di nadi-nadiku.
Sunyi masih bisa kuhirup.
Jingga masih jadi sinema yang kutunggu-tunggu.
Dan kau masih ditempatmu, di hatiku.
Aku hidup.
Ada yang hidup.










Oleh: Randi Ari Nugraha S



Tentu Saja

Sedang apa? Bagaimana suasana hatimu?
Kenapa tak pernah kau biarkan aku tahu?
Mungkin karna aku pun tak pernah biarkan kau tahu.
Tentu saja karna aku pun tak pernah biarkan kau tahu.

Kali ini, akan kubiarkan kau tahu;

Aku mencintaimu. Mungkin.
Mungkin, karna aku pun tak mengerti. Melihat senyummu sama seperti melihat hamparan hijau dan jingga serta bunga-bunga kecil merona bersamanya. Aku suka. Aku menyukainya. Sangat. Amat. Aku cinta. Mungkin.

Kau kucintai. Tentu saja.
Tentu saja, karna aku mengerti. Hamparan hijau dan jingga serta bunga-bunga kecil merona bersamanya akan selalu jadi pujaanku. Aku suka. Aku menyukainya. Sangat. Amat. Aku cinta. Tentu saja.

Di antara kemungkinan dan kepastian yang kubuat-buat, aku hanya ingin kau mengerti; Aku tak pernah mencintai embun. Embun itu gigil, rindu tanpa temu, dan sesak yang terhirup lewat celah-celah udara sebuah pagi. Embun di matamu, yang basah di pelupuk matamu.

Berjanjilah, untuk selalu menjadi hijau serta jingga serta merona tanpa pernah menjadi embun.
Berjanjilah, untuk tidak menjadi gigil juga rindu juga sesak yang terhirup lewat celah-celah udara sebuah pagi..
Kau harus baik-baik saja.
Kau perlu baik-baik saja.

Karna aku mencintaimu, kau kucintai, mungkin, tentu saja.








Oleh: Randi Ari Nugraha S

Sabtu

Hari ini aku lihat kelabu.
Tidak, aku melihat jauh redup lampu-lampu membentuk wajahmu.
Putih bunga di hadapanku, ungu, merah, oranye, kuning dan hijau daun-daun mekengkapinya.
Mereka tersenyum.

Sebentar lagi gelap.
Aku tak ingin pergi, biar disini.
Kupikir, bukankah hening adalah cara terbaik bersentuhan dengan angan?
Kupikir, aku akan terbiasa.

Sudah gelap.
Ada seekor kunang-kunang datang, cahanya redup, terbang rendah, sendirian, tak bisa ku eja bahasanya, menyedihkan. Ada air mata di pelupuk matanya, sungguh, ada air mata di pelupuk matanya. Kemudian ia jatuh, cahayanya mati, ia mati.

Sudah sangat gelap.
Bulan tak muncul, bintang sembunyi.
Aku tak ingin pergi, biar disini.
Jauh lampu-lampu di sana masih redup, masih membentuk wajahmu, indah.
Mau kupetikkan satu tangkai bunga dihadapanku ini?
Kuning? Akan kupetik setelah ini, semoga daun tak iri.







Oleh: Randi Ari Nugraha S