UA-85687238-1 Di Antara Kunang-kunang: Kalau-kalau Harga Rokok Naik

Kalau-kalau Harga Rokok Naik

Kalau-kalau harga rokok naik, biar saja kuhirup oksigen murni, tapi bukan disini, bukan ditempat ini, lima zat pencemar udara paling jahat bertebaran disini. Aku akan pergi, pergi kesana, bukit paling hijau tanpa daun-daun yang menguning, oksigen murni bertebaran disana sebelum petang. Akan kuhirup dalam-dalam oksigen murni itu, biar paru-paruku mengembang lalu mengempis lalu mengembang lagi. Akan benar-benar kunikmati.

Petani-petani tembakau pun akan datang, mereka akan tersenyum melihatku. Resah di dadanya akan dilupakannya barang sejenak. Kami sama-sama cinta tembakau. Tapi biar kami lupakan sebentar tentang tembakau kali ini. Biar kami singgah.

Kami akan duduk, menghirup dalam-dalam oksigen murni disana, menikmati suasana, bunga-bunga putih kecil di kaki, bercerita tentang riwayat keringat-keringat yang pernah terjatuh.

Kemudian salah satu dari petani tembakau akan bernyanyi, suaranya merintih, kecil, lembut "hiduplah tanahku, hiduplah negriku, Bangsaku, Rakyatku, semuanya" Kami pun ikut bernyanyi, kami bernyanyi, kami semua bernyanyi, burung-burung kecil pun sekuat tenaga berusaha menyanyikan nyanyian ini bersama kami.

Kemudian kami akan tertawa, sangat keras, sungguh keras, sampai puas, sampai menetes air mata.

Kabut akan turun dan kami akan pergi, pergi ketempat kami masing-masing. Ada empat jalan setapak yang bisa kami lalui, para petani tembakau memilih menuju ke selatan bersama-sama, aku ke utara, namun tak ada satupun dari kami yang pergi ke barat atau pun ke timur.

Dari kejauhan, tubuh-tubuh ringkih mereka, lengkung keikhlasan pada wajah mereka, ada lengkung keikhlasan pada wajah mereka. Tawa mereka, mereka tertawa, tapi tetes air mata mereka, mereka menangis.

Semakin jauh, jalan setapak yang tertutup kabut, mereka menghilang, tak lagi terlihat, ada aroma tembakau.














Oleh: Randi Ari Nugraha S

No comments:

Post a Comment