UA-85687238-1 Di Antara Kunang-kunang: Sabtu

Sabtu

Hari ini aku lihat kelabu.
Tidak, aku melihat jauh redup lampu-lampu membentuk wajahmu.
Putih bunga di hadapanku, ungu, merah, oranye, kuning dan hijau daun-daun mekengkapinya.
Mereka tersenyum.

Sebentar lagi gelap.
Aku tak ingin pergi, biar disini.
Kupikir, bukankah hening adalah cara terbaik bersentuhan dengan angan?
Kupikir, aku akan terbiasa.

Sudah gelap.
Ada seekor kunang-kunang datang, cahanya redup, terbang rendah, sendirian, tak bisa ku eja bahasanya, menyedihkan. Ada air mata di pelupuk matanya, sungguh, ada air mata di pelupuk matanya. Kemudian ia jatuh, cahayanya mati, ia mati.

Sudah sangat gelap.
Bulan tak muncul, bintang sembunyi.
Aku tak ingin pergi, biar disini.
Jauh lampu-lampu di sana masih redup, masih membentuk wajahmu, indah.
Mau kupetikkan satu tangkai bunga dihadapanku ini?
Kuning? Akan kupetik setelah ini, semoga daun tak iri.







Oleh: Randi Ari Nugraha S

No comments:

Post a Comment