UA-85687238-1 Di Antara Kunang-kunang: Sendu

Sendu

Malam ini, mungkin kau baru saja menangis, atau sedang menangis, atau barangkali berencana akan menangis. Meneteskan air mata, setetes saja, atau barangkali ratusan tetes demi tetes air mata, mata indah milikmu itu. Terisak, atau, pun barangkali hanya sedikit menarik nafas panjang melalui lubang hidung mungilmu menuju paru-paru di balik dada lapangmu. Tak apa, menangislah.

Kupikir, kau perlu itu. Kau suka terombang ambing dalam perasaan sendu, mengingat yang lalu, biru, jingga, hijau dan tawa. Tunggu, tawa tidaklah sendu, tawa itu bahagia, namun tawa yang kau ingat adalah tawa yang tak pernah lagi kau kecap rasanya, itu sendu.

Menangis bagimu adalah pengharapan. Tentang dia, seseorang yang tawanya dahulu adalah bahagiamu, bahagia tak terkira, bahagia luar biasa, tanpa tangis, tidak sendu. Kau ingin bersamanya, mengecap lagi tawanya, tertawa bersamanya, menertawakan dunia, sangat keras, sangat terbahak, terdengar sampai angkasa, sampai Tuhan pun ikut tertawa.

Dia.

Dibalik dada kirimu.

Kau merindukannya. Sangat merindukannya, terlalu merindukannya, dan sungguh katamu dalam hati "Tuhan, dia, cukup dia, dia lebih dari cukup, batalkan saja rencanamu tentang segala sesuatu yg lebih indah darinya."

Kupikir, tak ada yang salah dengan rindumu. Tuhanmu pun mungkin hanya sedang rindu padamu. Maaf, tapi terjemahkanlah.

Suatu hari, jika tiba saatnya, angin akan berhenti, dan Tuhan akan bekerja.

Jutaan liter kubik air laut akan membanjiri hatinya, dia, bahagiamu, dibalik dada kirinya. Menghanyutkan segala hal dihatinya, tapi tidak kau. Kau tahu bagaimana menjadi karang, kau karang, air laut takkan mampu menghancurkanmu. Kau akan jadi satu-satunya yang bertahan dihatinya. Dia akan mengerti siapa yang terhebat, kau yang terkuat, yang paling tangguh merindukannya, merindukan lebih rindu daripada rindu. Dan, air mata akan menetes dari matanya, setetes saja, atau barangkali ratusan tetes demi tetes air mata, mata yang bagimu lebih indah dari indah. Rindumu usai. Dan semoga Tuhan pun tak lagi harus merindukanmu.

Lalu aku? Nantinya, aku pun akan menangis. Setetes saja. Sambil tertawa. Aku sendu.





Oleh: Randi Ari Nugraha S

No comments:

Post a Comment